Saatnya Jatuh Cinta pada Pantun

 Resume ke-20

Jum'at, 05 Juni 2026 

Nara Sumber     : Miftahul Hadi, S.Pd

Moderator         Leli Suryani, S.Pd.SD

Pembukaan kelas malam ini diawali dengan salam, pantun penyemangat, dan sapaan hangat kepada seluruh peserta KBMN 34 dari berbagai daerah di Indonesia. Bunda Lely Suryani mengajak peserta untuk mengikuti kelas dengan penuh semangat karena materi malam ini membahas kaidah pantun yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan menulis.

Peserta diajak bersyukur, berdoa bersama, serta mempersiapkan diri mengikuti rangkaian kegiatan yang terdiri atas pembukaan, perkenalan, pemaparan materi, tanya jawab, dan penutup. Selain itu, moderator juga memperkenalkan narasumber, Bapak Miftahul Hadi, sebagai sosok yang ahli di bidang pantun dan akan berbagi ilmu kepada seluruh peserta.

Profil Narasumber Malam ini

Bapak Miftahul Hadi adalah guru kelas di SD Negeri Raji 1 Demak, Jawa Tengah, yang aktif sebagai Guru Penggerak Angkatan 5 dan Pengajar Praktik Angkatan 10 Kabupaten Demak. Selain mengajar, beliau juga dikenal sebagai narasumber di berbagai pelatihan pendidikan, khususnya dalam bidang literasi, pantun, Canva, teknologi pendidikan, dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran. Beliau juga aktif menggerakkan berbagai komunitas belajar guru serta berperan dalam organisasi profesi guru di Kabupaten Demak.

Berbagai prestasi telah beliau raih, di antaranya menjadi Finalis Festival Pantun Pendidikan Negeri Serumpun tingkat ASEAN, Finalis Lomba Podcast Pendidikan tingkat Jawa Tengah, dan Finalis Guru Berprestasi Kabupaten Demak Tahun 2024. Pengalamannya sebagai pemateri telah menjangkau tingkat nasional hingga internasional, termasuk menjadi narasumber seminar pantun yang diselenggarakan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Timor Leste. Dengan semangat "Berkarya, Berdedikasi, dan Menginspirasi", beliau terus berbagi ilmu dan menginspirasi para pendidik di seluruh Indonesia. Masya Allah profil yang membuat siapapun kagum sekaligus “iri” dengan banyaknya prestasi dan pengalaman. Semoga saya dan teman-teman di KBMN PGRI #34 bisa mengikuti jejak positif beliau. Aamiin

Penjelasan tentang pantun

Indonesia memiliki beragam seni sastra lisan, salah satunya adalah pantun. Pantun tidak hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai pertunjukan budaya tradisional. Contohnya adalah Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menggunakan pantun untuk menyampaikan kisah sejarah dan keagamaan.

Selain itu, unsur pantun juga dapat ditemukan dalam pertunjukan Randai dari Minangkabau yang memadukan seni musik, tari, drama, dan silat. Sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi, pantun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2014 dan kemudian diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tanggal 17 Desember 2020.

Berbagai pendapat tentang pantun

1. Menurut Renward Brandstetter yang dikutip oleh Suseno (2006), Setyadiharja (2018), dan  Setyadiharja (2020), kata pantun berasal dari kata pan yang berarti sopan dan tun yang berarti santun.

2. Hussain (2019) menjelaskan bahwa kata tun juga dapat dimaknai sebagai pepatah atau peribahasa. Dalam berbagai bahasa daerah di Asia Tenggara, akar kata yang serupa memiliki makna yang berkaitan dengan keteraturan, pendidikan, kepemimpinan, dan kehormatan.

3. Mu'jizah (2019) menambahkan bahwa pantun berasal dari akar kata tun yang berarti baris atau deret. 

4. Yunos (1966) dan Bakar (2020), pantun merupakan puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait, dengan dua baris pertama sebagai sampiran atau pembayang dan dua baris terakhir sebagai isi atau pesan yang ingin disampaikan.

5. Kamus Bahasa Melayu Nusantara (2003) menjelaskan bahwa Pantun adalah sejenis peribahasa yang digunakan sebagai sindiran

6. Menurut Suseno (2006) di Tapanuli pantun dikenal dengan nama ende-ende.

Dalam tradisi Melayu-Minangkabau, pantun dikenal sebagai panutun yang berarti tuntunan, sedangkan masyarakat Riau mengenalnya sebagai tunjuk ajar yang berkaitan dengan nilai-nilai etika dan pendidikan.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat dipahami bahwa pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, melainkan sarana untuk menyampaikan nasihat, pendidikan, dan nilai-nilai kehidupan secara santun dan menarik.

Fungsi Pantun Sebagai Pemelihara Bahasa

1. Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir.

2. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.

3. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat.

4. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.

5. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Ciri-ciri Pantun

1. Satu bait terdiri dari empat baris

2. Satu baris terdiri dari delapan sampai dua belas suku kata

3. Memiliki sajak a-b-a-b (baris satu dan baris tiga memiliki bunyi sama

baris dua dan baris empat memiliki bunyi sama

Ciri-ciri Syair

1. Satu bait terdiri dari empat baris

2. memiliki sajak a-a-a-a

3. Keempat barisnya memiliki hubungan

Ciri-ciri Karmina

1. Terdiri dari dua baris

2. Baris pertama di sebut sampiran

3. Baris kedua disebut isi

4. Memiliki sajak a-a

5. Antara sampiran dan isi tidak memiliki hubungan sebab akibat

Ciri-ciri Gurindam

1. Satu bait terdiri dari dua baris

2. memiliki saja a-a

3. Baris pertama dan kedua memiliki hubungan sebab akibat

Cara cepat membuat pantun

1. Harus tahu ciri-ciri pantun

2. Kuasai perbendaharaan kata

3. Buat isi terlebih dahulu (baris 3 dan 4) setelah itu buat sampirannya baris 1 dan 3

Malam ini saya semakin kagum bahwa pantun ternyata bukan sekadar rangkaian kata berima, melainkan warisan budaya yang sarat nilai, kesantunan, dan tuntunan hidup hingga diakui dunia melalui UNESCO. Penyampaian materi yang begitu kaya oleh Bapak Miftahul Hadi membuat saya semakin memahami makna pantun dari berbagai sudut pandang para ahli, sementara moderator dengan gaya yang hangat dan penuh semangat berhasil menghidupkan suasana kelas sejak awal. Semoga kelas malam ini tidak hanya menambah pengetahuan kami tentang pantun, tetapi juga menumbuhkan kecintaan untuk melestarikan budaya bangsa, memperkaya kemampuan menulis, dan menginspirasi kami untuk terus berkarya dengan kata-kata yang indah, santun, dan bermakna.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proofreading: Ketika Detail Kecil Mengubah Segalanya

Menulis Bukan Bakat Tapi Keberanian Untuk Memulai

Menulis: Dari Belajar hingga Menginspirasi