“Om Jay dan AI: Menulis dengan Hati di Tengah Kecanggihan Teknologi”
Resume ke-19
Rabu, 03 Juni 2026
Nara Sumber : Dr.Wijaya Kusuma, M.Pd
Moderator : Dail Ma'ruf, M.Pd
Pertemuan ke 19
KBMN PGRI #34 malam ini , Bapak moderator Dail Ma'ruf, M.Pd. (Damar) berbagi
pengalaman inspiratif sebagai alumni KBMN 20. Melalui KBMN, beliau berhasil
mewujudkan impiannya menjadi penulis, menerbitkan buku solo maupun antologi,
serta memperluas jaringan dengan berbagai akademisi dan tokoh pendidikan.
Kelas malam ini dibahas pemanfaatan Artificial
Intelligence (AI) dalam dunia menulis. AI telah menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari dan dapat dimanfaatkan secara positif untuk membantu proses menulis
jika digunakan dengan cara yang tepat. Peserta juga diperkenalkan dengan
narasumber utama, Dr. Wijaya Kusumah (Om Jay), pendiri KBMN, seorang guru IT di
SMP Labschool UNJ Jakarta, penulis, dan pegiat literasi yang telah
menginspirasi banyak orang untuk berkarya melalui tulisan.
Om jay sosok
yang menginspirasi
Prestasi Om Jay
mencerminkan dedikasi luar biasa dalam dunia pendidikan, literasi, dan inovasi.
Berbagai penghargaan tingkat nasional yang diraihnya menjadi bukti bahwa
ketekunan dalam belajar, menulis, dan berbagi ilmu mampu melahirkan karya yang
berdampak luas. Sosok beliau mengajarkan bahwa seorang guru tidak hanya
mengajar di kelas, tetapi juga menginspirasi melalui karya dan teladan. Salut
dengan sosok Om Jay yang selalu menginspirasi.
Pendapat Om
Jay tentang AI
Menurut Om Jay,
AI bukan ancaman, melainkan alat yang dapat membantu manusia bekerja dan
menulis lebih efektif. AI mampu membantu mencari ide, menyusun materi, dan
merangkum informasi, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman, empati,
kreativitas, dan hati seorang penulis. Karena itu, AI harus dimanfaatkan secara
bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Teknologi dapat membantu proses menulis,
tetapi sentuhan manusia tetap menjadi unsur terpenting dalam menghasilkan karya
yang bermakna.
Pertama
AI adalah
teknologi yang berfungsi sebagai asisten pintar untuk membantu manusia bekerja
lebih cepat dan mudah. AI dapat membantu mencari informasi, membuat tulisan,
merangkum materi, dan menyusun soal, tetapi tidak memiliki perasaan, empati,
maupun kreativitas seperti manusia. Karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai
alat bantu, bukan pengganti manusia. Guru dan penulis yang mampu memanfaatkan
AI secara bijak akan lebih unggul, karena sentuhan hati, pengalaman, dan
nilai-nilai kemanusiaan tetap tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Menurut Om Jay,
masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu memadukan kecerdasan manusia
dengan kecanggihan teknologi. AI bukan untuk ditakuti atau dilawan, melainkan
dimanfaatkan secara bijak sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan
kreativitas. Meski teknologi terus berkembang, nilai-nilai kemanusiaan seperti
etika, empati, karakter, dan kebijaksanaan tetap menjadi kunci utama. AI dapat
mempercepat pekerjaan, tetapi hati dan pikiran manusialah yang memberi makna
pada setiap karya dan keputusan.
Kedua
Menurut Om Jay,
AI adalah asisten pintar yang membantu manusia bekerja lebih cepat dan mudah,
tetapi tidak dapat menggantikan peran manusia dalam berpikir, mengambil
keputusan, dan memberikan sentuhan hati. AI sebaiknya digunakan sebagai alat
bantu untuk meningkatkan kualitas belajar, menulis, dan berkarya, bukan sebagai
pengganti kemampuan berpikir. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi
manusia tetap menjadi pengendali yang menentukan arah, nilai, dan makna dari
setiap karya.
Ketiga
Menurut Om Jay,
penulis tidak perlu takut pada AI, tetapi perlu belajar memanfaatkannya secara
bijak. AI dapat membantu mempercepat proses menulis, namun tidak dapat
menggantikan pengalaman, empati, kreativitas, dan sudut pandang manusia. Karena
itu, penulis harus tetap rajin membaca, menulis, berpikir kritis, serta
memverifikasi hasil AI. Jadikan AI sebagai sahabat literasi untuk meningkatkan
produktivitas, sementara hati dan pengalaman tetap menjadi jiwa dari setiap
tulisan.
Sebelum ada AI berapa artikel om Jay menulis sehari?
Menurut Om Jay,
rahasia menjadi penulis produktif bukan terletak pada AI, melainkan pada
kebiasaan menulis yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Jauh sebelum ada
AI, beliau sudah terbiasa menulis 3–5 artikel sehari dari berbagai pengalaman,
bacaan, dan peristiwa yang ditemui. Kehadiran AI memang membantu mempercepat
proses mencari ide, membuat kerangka, mengedit, dan menyusun tulisan sehingga
produktivitas meningkat menjadi 5–10 artikel per hari. Namun AI hanyalah alat
bantu yang tidak dapat menggantikan pengalaman hidup, perasaan, nilai-nilai,
dan sudut pandang penulis. Karena itu, penulis pemula tidak perlu fokus pada
jumlah tulisan, tetapi pada konsistensi menulis sedikit demi sedikit setiap
hari. Dengan kebiasaan tersebut, kemampuan berpikir, wawasan, dan kualitas
tulisan akan terus berkembang hingga menghasilkan karya yang bermakna dan
berdampak.
AI dapat membantu penulis bekerja lebih cepat dan lebih produktif, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman, kreativitas, dan perasaan manusia. AI hanyalah alat bantu, sedangkan kualitas tulisan tetap ditentukan oleh penulisnya. Oleh karena itu, gunakan AI secara bijak untuk mendukung proses menulis, sambil tetap mengandalkan pemikiran, pengalaman, dan hati agar tulisan menjadi lebih bermakna.
Google tidak
menilai sebuah artikel dari apakah dibuat dengan AI atau tidak, tetapi dari
kualitas dan manfaatnya bagi pembaca. AI dapat membantu menyusun tulisan, namun
pengalaman, pemikiran, dan sentuhan hati tetap harus berasal dari penulis.
Tulisan yang memadukan kecanggihan AI dengan pengalaman dan kreativitas manusia
akan lebih autentik, bermakna, dan bernilai bagi pembaca
Dunia media
cetak dan online saat ini sedang mengalami penurunan besar, bahkan banyak yang
kehilangan kejayaannya akibat perubahan teknologi dan kebiasaan membaca
masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa dunia kepenulisan telah bergeser ke
era digital. Karena itu, penulis tidak cukup hanya mampu menulis, tetapi juga
harus mampu beradaptasi dengan teknologi seperti media sosial, blog, dan AI.
Penulis yang mau belajar dan berubah akan tetap bertahan, sedangkan yang tidak
beradaptasi akan tertinggal.
Pesan Om
Jay tentang AI
1. Jangan takut
AI mengambil pekerjaan penulis, tapi takutlah jika tidak mau belajar AI.
2. Kebutuhan
konten digital semakin besar, peluang penulis justru semakin luas.
3. AI membantu
mempercepat kerja: ide, kerangka, editing, hingga publikasi.
4. Penulis tetap
dibutuhkan untuk memberi pengalaman, emosi, dan sudut pandang manusia.
5. AI bisa
membantu menulis buku, modul, dan konten pendidikan lebih cepat.
6. Satu tulisan
bisa dikembangkan jadi banyak bentuk konten (blog, video, presentasi, dll).
7. Peluang
besar: personal branding, content creator, trainer AI, dan konsultan.
8. Penulis masa
depan adalah yang mampu menguasai dan memanfaatkan AI.
9. Dalam karya
ilmiah (S1–S3), AI membantu teknis, tetapi analisis dan kejujuran tetap dari
penulis.
10. AI harus
dikendalikan, bukan menggantikan proses berpikir manusia
Dalam penggunaan
AI untuk menulis, sering kali penulis tanpa sadar menjadi terlalu bergantung
pada AI, mulai dari ide, susunan, hingga gaya tulisan. Bagaimana cara yang
sederhana dan bisa dilakukan sehari-hari agar penulis tetap melatih kemampuan
berpikir sendiri, menjaga gaya tulisan pribadi, dan tetap memiliki “suara hati”
dalam tulisan, meskipun setiap hari menggunakan AI sebagai bantuan menulis’
Malam ini saya
benar-benar merasakan sebuah pengalaman belajar yang sangat berkesan dan
membuka wawasan baru tentang dunia kepenulisan di era AI. Narasumber tidak
hanya menyampaikan materi, tetapi juga memberikan inspirasi yang dalam tentang
bagaimana seorang penulis seharusnya bersikap di tengah derasnya perkembangan
teknologi. Cara beliau menjelaskan membuat saya semakin yakin bahwa AI bukan
untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami dan dimanfaatkan dengan bijak tanpa
kehilangan nilai kemanusiaan dalam menulis.
Saya juga sangat
mengapresiasi moderator yang begitu interaktif dan mampu menjaga alur diskusi
dengan hangat dan hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan membuat materi
semakin dalam, terarah, dan mudah dipahami. Suasana diskusi terasa tidak kaku,
tetapi mengalir seperti percakapan yang penuh makna. Malam ini kelasnya mantap
betul… luaaar biasaaa…
Dari keseluruhan
materi malam ini, saya menarik kesimpulan bahwa AI hanyalah alat bantu yang
mempercepat proses menulis, tetapi tidak pernah bisa menggantikan pengalaman,
perasaan, dan keunikan manusia sebagai penulis. Kualitas sebuah tulisan tetap
ditentukan oleh kedalaman berpikir, kejujuran pengalaman, serta ketulusan hati
penulisnya. Karena itu, sikap terbaik adalah tidak menolak AI, tetapi belajar
menggunakannya secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab agar dapat
meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas karya.
Thank you so
much Om Jay…Do’akan saya dan teman-teman di KBMN PGRI # 34 bisa mengikuti jejak
Om Jay dan bisa memberi manfaat sebanyak-banyaknya. Aamiin

Komentar
Posting Komentar