Inspire & Achieve

 




Ketika Keteladanan Tumbuh Diam-Diam di Sudut Sekolah

Written by. Hayatunnufus

Hari yang special bagi saya, sebuah tantangan sederhana dari narasumber membuka cara pandang baru tentang dunia sekolah. Bunda Widya Arema mengajak untuk menulis sebuah berita artikel tentang satu kegiatan atau kisah inspiratif yang ada di sekolah. Tantangan itu terdengar biasa, namun terasa begitu besar. Sebab di sekolah ini, jangankan memiliki majalah sekolah, mading pun belum berjalan sebagaimana mestinya. Banyak cerita baik yang hidup, tetapi belum memiliki ruang untuk dikenal dan diapresiasi.

Namun bukankah setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil?

Hari ini, langkah kecil itu dimulai. Dengan modal ilmu dan semangat dari materi yang disampaikan narasumber, lahirlah tulisan pertama dengan tema “Inspire & Achieve.” Sebuah tulisan sederhana tentang tiga anak kecil yang diam-diam sedang mengajarkan arti istiqomah kepada banyak orang dewasa.

Mereka adalah tiga saudara kembar saat ini kelas 3 di SDIT Cahaya Hati Bukittinggi: Hamdana Anugrah, Hamdane Anugrah, dan Hamdanu Anugrah. Tiga anak hebat yang sejak kelas 1 SD sudah membiasakan diri menjalankan puasa sunnah Senin dan Kamis. Bukan hanya ketika hari sekolah, bahkan saat libur pun mereka tetap melaksanakannya. Di usia ketika sebagian anak masih sibuk bermain dan menikmati masa kecil tanpa aturan, mereka justru sedang belajar menahan lapar demi cinta kepada Rabb-Nya.

Betapa menakjubkan hati kecil yang sudah begitu dekat dengan Allah.

Mungkin selama ini prestasi mereka tidak berdiri di atas panggung megah. Tidak selalu diumumkan dengan tepuk tangan. Tidak pula dihiasi piala dan piagam penghargaan. Namun sesungguhnya, ada prestasi yang jauh lebih besar daripada sekadar angka dan medali: mampu menjaga hubungan dengan Rabb sejak usia dini.

Dan itu tidak lahir begitu saja.

Di balik istiqomah tiga anak ini, ada doa orang tua yang tidak pernah lelah mengetuk langit. Ada didikan yang dibangun dengan cinta, kesabaran, dan keteladanan. Ada perjuangan ayah dan ibu yang mungkin tidak terlihat, tetapi diam-diam sedang menanam pohon kebaikan dalam jiwa anak-anaknya.

Begitu pula guru-guru di sekolah. Mungkin tanpa disadari, setiap nasihat, setiap doa, setiap pelajaran agama, dan setiap contoh kebaikan yang diberikan telah menjadi cahaya yang ikut menuntun langkah mereka. Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya tentang membuat anak pintar, tetapi juga membantu mereka dekat dengan Rabb-nya.

Kisah tiga anak ini seakan menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak selalu tentang siapa yang paling terkenal, tetapi siapa yang paling tulus menjaga kebaikan meski tidak banyak dilihat manusia.

Di zaman ketika banyak anak seusia mereka sibuk mengejar hiburan dunia, mereka memilih belajar mencintai ibadah. Di saat sebagian orang dewasa masih berjuang melawan rasa malas untuk berpuasa sunnah, tiga anak kecil ini justru menjadikannya kebiasaan.

Sungguh, hati menjadi malu sekaligus kagum.

Tulisan ini mungkin hanyalah awal kecil. Tetapi semoga dari sini lahir keberanian untuk mulai menghidupkan budaya literasi di sekolah. Semoga suatu hari nanti sekolah ini memiliki majalah sekolah yang penuh kisah inspiratif, penuh apresiasi, dan penuh keteladanan anak-anak hebat yang selama ini diam-diam bersinar.

Karena setiap anak berhak di apresiasi. Setiap kebaikan layak diceritakan.
Dan setiap keteladanan pantas menjadi cahaya bagi yang lain.

Mari mulai lebih peka melihat kebaikan di sekitar kita. Bisa jadi, anak-anak kecil yang hari ini istiqomah menjaga ibadah adalah generasi yang kelak akan menjaga umat dan membawa cahaya bagi negeri ini. Jangan lelah memberi apresiasi, jangan pelit memberi doa, dan jangan berhenti menuliskan kebaikan. Sebab mungkin, satu tulisan sederhana mampu mengetuk hati banyak orang untuk kembali dekat kepada Rabb-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proofreading: Ketika Detail Kecil Mengubah Segalanya

Menulis Bukan Bakat Tapi Keberanian Untuk Memulai

Menulis: Dari Belajar hingga Menginspirasi