"Harga di Kertas, Nilai di Hati”

Beras 1 liter: 13.000

Gas 3 kg: 20.000
Air mineral: ada tarifnya.
Semua tertulis rapi. Jelas. Tegas. Tidak bisa ditawar.

Tapi anehnya… yang paling mahal justru tidak pernah ditempel di papan harga.

Kejujuran berapa harganya?
Keadilan siapa yang menjualnya?
Kepedulian di mana kita membelinya?

Di papan ini kita melihat angka.
Di kehidupan, kita sering melihat “rasa”.

Rakyat kecil akan berhitung: cukup atau tidak.
Orang tua akan berpikir: besok makan apa.
Dan sebagian dari kita mulai bertanya pelan,
“Kenapa yang sederhana terasa semakin berat?”

Di sinilah peran pemerintah diuji.
Bukan sekadar mengatur angka,
tapi menjaga agar setiap angka tetap punya rasa kemanusiaan.

Karena harga bukan hanya soal ekonomi,
tapi tentang keadilan yang terasa.

Jika beras naik, rakyat harus tahu: kenapa.
Jika gas mahal, rakyat ingin merasa: diperhatikan.
Jika air dijual, jangan sampai air mata ikut mengalir diam-diam.

Namun di atas semua itu, ada satu hal yang sering kita lupa…

Bahwa setiap angka yang kita tetapkan di dunia,
akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Rabb.

Rabb tidak bertanya: “Berapa harga yang kamu tetapkan?”
Tapi Dia akan bertanya:
“Apakah kamu sudah adil?”
“Apakah kamu sudah amanah?”
“Apakah kamu ingat mereka yang paling lemah?”

Dan untuk kita sebagai rakyat,
Rabb juga tidak diam.

Dia melihat saat kita bersabar.
Dia tahu saat kita menahan lelah.
Dia mencatat setiap ikhtiar kecil yang kita lakukan untuk bertahan.

Maka papan harga ini bukan sekadar daftar jual beli.
Ia adalah cermin.

Cermin bagi pemerintah:
apakah kebijakan sudah menyentuh hati rakyat?

Cermin bagi kita:
apakah kita masih saling peduli di tengah sulitnya hidup?

Dan cermin bagi iman:
apakah kita masih percaya…
bahwa di balik setiap kesulitan,
Rabb sedang mengatur sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka.

Karena pada akhirnya,
hidup ini bukan tentang berapa yang kita punya,
tapi tentang bagaimana kita menjalaninya dengan jujur, adil, dan tetap bersandar pada Rabb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Bukan Bakat Tapi Keberanian Untuk Memulai

Menulis: Dari Belajar hingga Menginspirasi

Dongeng dan Cerita, Warna dalam Kenangan