Dongeng dan Cerita, Warna dalam Kenangan
Resume ke-5
Rabu, 29 April 2026
Nara Sumber Helwiyah, S.Pd., M.M.
Moderator Dyah Kusumaningrum, M.Pd
"Di negeri fantasi yang penuh dengan keajaiban, dongeng dan fabel menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia imajinasi yang tak terbatas. Dengan kata-kata yang indah dan cerita yang memikat, kita dapat menciptakan dunia baru yang penuh dengan hewan berbicara, peri yang cantik, dan pahlawan yang berani.
Menulis Cerita anak, dongeng dan fabel bukan hanya sekedar mengarang cerita, tapi juga merupakan proses menghidupkan karakter, mengembangkan plot, dan menyampaikan pesan moral yang berharga.
Dengan setiap kata yang kita tulis, kita dapat membawa pembaca dalam perjalanan yang penuh dengan petualangan, kesedihan, dan kebahagiaan. Mari kita ciptakan Cerita anak, dongeng dan fabel yang indah, menginspirasi, dan membawa kita ke dalam dunia fantasi yang tak terlupakan."
Ingin mahir menciptakan kata-kata imaginasi, mari kita segera bertualang malam ini. Hanya di KBMN 34.
Torehan kalimat pengiring flayer yang luar biasa. Saya langsung bisa menghayalkan arah kelas malam ini. Kelas yang akan membuat pikiran saya melayang jauh, berfantasi tanpa batas dan membuncah semangat saya untuk fokus belajar.
Secara terang-terangan saya sampaikan bahwa malam ini saya sangat antusias sekali mengikuti kelas. Seumur hidup baru malam ini saya mendapatkan ilmu terkait dongeng dan cerita anak. Saya suka membaca dongeng dan cerita anak. Selama ini belum pernah terpikirkan oleh saya bahwa ada kelas yang free menyajikan materi yang luar biasa ini.
Malam ini Bapak/Ibu akan ditemani oleh saya, Dyah Kusumaningrum, saya merupakan salah satu lulusan KBMN Gelombang ke-28, dan berkat KBMN PGRI saya berhasil membuat 1 buku solo ber-ISBN, 1 buku pelajaran bersama penerbit Mayor (Grafindo) dan beberapa buku antologi. " perkenalan dari moderator malam ini".
Bu Dyah juga memperkenalkan pemateri malam ini. Beliau adalah Ibu Helwiyah, lahir di Jakarta, 10 Desember 1971. Saat ini berdomisili di Bekasi. Beliau merupakan seorang pendidik dan pegiat literasi yang memiliki latar belakang pendidikan S1 Akuntansi IKIP Jakarta, S1 PGSD Uhamka, serta S2 Magister Manajemen Uhamka.
Kiprah beliau di KBMN tidak diragukan lagi. Beliau merupakan lulusan Gelombang 20, dan aktif menjadi moderator sejak Gelombang 21 hingga 34. Selain itu, beliau juga turut mengawal Kopdar KBMN dari pertama hingga keempat.
Pengalaman beliau sangat luas, di antaranya pernah mengajar di SMK Muhammadiyah 6-7 Jakarta, MAN 10 Jakarta, menjadi dosen di LP3I Depok, serta saat ini mengabdi di SDN Duren Sawit 14 Jakarta Timur. Selain itu, beliau juga aktif sebagai Instruktur Nasional Akuntansi, narasumber literasi, serta penulis yang produktif, salah satunya di media online Langitilmuedu.
Karya beliau pun luar biasa, di antaranya buku berjudul:
πUntaian Kata Berkisah (puisi)
π Kulepas Dengan Ikhlas (cerpen)
π Bianglala Kata (pantun)
π Kumpulan Cerita Horor (2024)
Dan telah berkontribusi dalam puluhan karya antologi serta menulis di berbagai platform literasi.
Saya terpesona membaca pemateri malam ini, Bu Helwiyah sosok yang menginspirasi dan pendidik sejati, ini terbukti dengan karya-karya dan berkecimpungnya beliau di ranah literasi.
Ini materi inti dari Bu Helwiyah:
Bolbol Aku kangen
Di kelas 1 Arrahmah, Hasan selalu membawa botol minumnya yang bernama Bolbol. Hasan sangat rajin menjaga kebersihan dan selalu mengisi Bolbol dengan air sebelum berangkat sekolah.
Suatu hari, saat pulang sekolah, Hasan terburu-buru bermain bersama Ahmad dan Salsabila hingga lupa membawa Bolbol pulang. Bolbol pun tertinggal sendirian di kolong meja kelas yang gelap dan sepi.
Hasan baru menyadarinya saat malam tiba. Ia merasa sedih dan teringat bahwa Rasulullah mengajarkan untuk menjaga amanah, termasuk merawat barang milik sendiri. “Bolbol, kamu Dimana”? kata Hasan dengan wajah sedih.
Malampun berlalu dengan banyaknya Bintang-bintang di langit. Namun Hasan tidak menyadarinya karena hatinya sedang sedih. Bolbol… “maafkan aku ya”, kata Hasan. Akhirnya Hasan tertidur dengan perasaan yang sedih.
Keesokan paginya, Hasan datang lebih awal ke sekolah bersama Ahmad dan Salsabila. Mereka mencari Bolbol dengan penuh harap, hingga akhirnya menemukannya masih berada di bawah meja kelas.
Hasan sangat bersyukur dan memeluk botol minumnya sambil berkata, “Mulai sekarang aku harus lebih bertanggung jawab.” Ahmad dan Salsabila pun mengangguk setuju. Mereka belajar bahwa menjaga barang milik sendiri adalah bagian dari rasa syukur kepada Allah, karena setiap nikmat yang diberikan harus dijaga dengan baik.













Komentar
Posting Komentar