Change your Life now!

Ada fase dalam hidup ketika kita mulai malu kepada diri sendiri.
Bukan karena hidup ini kurang, tetapi karena terlalu banyak nikmat yang Allah beri, sementara syukur kita masih begitu sedikit.

Ya Rabb…
teramat kecil yang telah hamba lakukan untuk membalas semua kebaikan-Mu.
Padahal nikmat-Mu datang tanpa henti, mengalir di setiap waktu, bahkan saat diri ini lupa untuk berterima kasih.

Engkau beri kesehatan, kesempatan, orang-orang baik, jalan kemudahan, dan cinta yang tak pernah putus.
Namun sering kali hati ini masih sibuk mengeluh, masih merasa kurang, masih mencari pembenaran atas kesalahan sendiri.

Bahkan terkadang melakukan sesuatu hanya demi penilaian manusia, bukan karena ingin Engkau ridai.

Duhai diri…
betapa sering engkau menikmati karunia Tuhan, tetapi lupa bersujud dengan penuh syukur.

Betapa sering engkau meminta lebih, padahal yang ada sudah begitu luar biasa.

Akankah keadaan ini terus berlanjut?
Jika iya… sampai kapan?

Ayolah diri… jangan terlalu lama tinggal di zona nyaman.
Jangan terlena dengan santai yang membuat langkahmu berhenti.
Sementara di luar sana, banyak orang yang berharap bisa berada di posisi yang sekarang engkau miliki.

Setelah ini, bermetamorfosislah.
Jadilah versi baru dari dirimu.
Berhenti hidup untuk penilaian manusia.
Berhenti sibuk memikirkan apa yang orang katakan dan apa yang mereka inginkan darimu.

Kembalilah kepada Rabb-mu.
Satu-satunya tempat pulang terbaik yang selalu menerima tanpa syarat.
Karena saat dunia perlahan meninggalkanmu, Allah tetap tinggal untuk memeluk hatimu.

Belajarlah menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri, bukan menjadi bayangan kehidupan orang lain.
Sebab Allah tidak meminta kita menjadi seperti mereka, Allah hanya meminta kita menjadi hamba yang terus memperbaiki diri.

Semangatlah untuk berubah menjadi lebih baik, duhai diri.
Ingat kembali tujuan awal mengapa engkau diciptakan.
Dan yakinlah… Rabb-mu akan selalu menemani, menjaga, dan menguatkanmu di mana pun dan kapan pun.

Bismillah…
mulai sekarang.
Tanpa “nanti”.
Tanpa “tapi”.
Tanpa menunggu sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Bukan Bakat Tapi Keberanian Untuk Memulai

Proofreading: Ketika Detail Kecil Mengubah Segalanya

Menulis: Dari Belajar hingga Menginspirasi