Di Tengah Sakit, Ia Tetap Mengajar
Di penghujung
tahun itu, lorong sekolah tampak lebih sunyi dari biasanya. Anak-anak kelas
satu berkali-kali menoleh ke pintu kelas, berharap sosok guru yang mereka
cintai segera datang seperti hari-hari sebelumnya.
Namun kursi di
depan kelas masih kosong.
Namanya Bu
Nayla. Guru sederhana yang selalu datang paling pagi, menyambut murid-muridnya
dengan senyum hangat meski kadang hidupnya sendiri penuh luka yang tidak pernah
ia ceritakan kepada siapa pun.
Sudah hampir
tiga minggu Bu Nayla sakit.
Tubuhnya melemah
perlahan. Tulang punggungnya terasa seperti ingin patah. Lutut dan kakinya
sakit hingga untuk berdiri saja harus berpegangan ke dinding. Kepala terasa
panas, tenggorokan nyeri, dan batuk panjang membuat dadanya sesak setiap malam.
Makan pun tak
lagi nyaman. Bubur yang masuk sering kembali keluar. Bahkan air putih yang
biasanya menenangkan kini terasa pahit di lidahnya.
Tetapi yang
paling berat bukan rasa sakit itu.
Melainkan rasa
rindunya kepada murid-murid kecilnya di sekolah.
Malam-malam Bu
Nayla dipenuhi tangis diam-diam. Saat semua orang tertidur, ia duduk bersandar
di sajadahnya. Kadang sholat sambil duduk karena tubuhnya tak lagi kuat berdiri
lama.
“Ya Rabb… terima
kasih… hamba masih bisa bersujud walau dengan duduk…”
Air matanya
jatuh perlahan.
Di tengah rasa
sakit yang begitu hebat, ia masih mencoba bersyukur.
“Hamba tahu
sakit ini cara-Mu menggugurkan dosa-dosa hamba…”
Di sekolah,
murid-murid mulai gelisah.
“Bu Nayla kapan
masuk lagi?” tanya Aisyah kecil sambil memeluk buku tulisnya.
“Aku rindu
dibacakan cerita sama Bu Guru…” ucap Raka lirih.
Suatu pagi, wali
kelas pengganti meminta anak-anak membuat kartu ucapan untuk Bu Nayla.
Dengan tulisan
seadanya dan huruf-huruf yang masih belum sempurna, mereka mulai menulis.
“Bu Guru cepat
sembuh ya…”
“Kami sayang Bu
Guru…”
“Bu Guru jangan
sakit lagi…”
Ada juga gambar
kecil rumah, matahari, dan sosok perempuan berjilbab yang berdiri sambil
tersenyum.
Ketika
kartu-kartu itu sampai ke rumah Bu Nayla, tangannya gemetar membukanya satu per
satu.
Matanya basah.
Ternyata selama
ini ada begitu banyak hati kecil yang diam-diam mencintainya dengan tulus.
Bu Nayla
menangis dalam diam.
Bukan karena
sakitnya.
Tetapi karena ia
merasa Allah sedang memeluk hatinya lewat cinta murid-murid kecil itu.
Hari-hari
berikutnya masih berat. Tubuhnya belum benar-benar pulih. Namun perlahan ia
mulai kuat berjalan walau pelan. Mulai bisa tersenyum lebih lama. Mulai bisa
tidur meski hanya sebentar.
Dan di suatu
pagi awal tahun, langkahnya kembali memasuki gerbang sekolah.
Murid-murid yang
melihatnya langsung berlari.
“Bu Naylaaaaa…”
Mereka memeluk
gurunya erat-erat.
Bu Nayla menahan
air matanya.
Di depan
anak-anak kecil itu, ia akhirnya memahami sesuatu…
Bahwa menjadi
guru bukan hanya tentang mengajar membaca atau berhitung.
Tetapi tentang
meninggalkan cinta di hati murid-murid, bahkan saat tubuh sendiri sedang rapuh.
Hari itu Bu
Nayla berdiri di depan kelas dengan tubuh yang masih lemah, lalu berkata pelan,
“Anak-anak…
kalau suatu hari kalian diuji sakit, sedih, atau lelah… jangan jauh dari Allah
ya. Karena hanya Allah tempat hati benar-benar pulang.”
Kelas kecil itu
mendadak hening.
Dan tanpa mereka
sadari, pagi itu bukan hanya pelajaran biasa yang diberikan Bu Nayla.
Melainkan
pelajaran tentang sabar, ikhlas, dan cinta kepada Rabb yang diajarkan langsung
lewat luka hidupnya sendiri.
Komentar
Posting Komentar