“Kamu Tidak Buntu, Kamu Hanya Terlalu Banyak Bersembunyi"
Resume ke-7
Kamis, 04 Mei 2026
Nara Sumber : Muliadi, S.Pd., M.Pd.
Moderator : Purbaniasita Kusumaning Sedyo, S.Pd
Materi malam ini dengan bertemakan "Mengatasi Writer's Block". Malam ini KBMN PGRI moderator kelas adalah Bu Purbaniasita dan biasa dipanggil Sita. dan narasumber malam ini adalah Bapak Muliadi, S.Pd,. M.Pd.
Beliau adalah seorang Kepala Sekolah di salah satu SMK Negeri 1 Galang Tolitoli. Beliau adalah seorang pegiat literasi yang telah menghasilkan 1 buku solo dan 7 buku antologi. Selain itu beliau juga aktif menulis di kompasiana.
Bapak Mul memulai dengan statement "menurut para guru dan mentor menulis di KBMN bahwa menulis itu adalah sebuah keterampilan, dia lahir dari kebiasaan yang diulang-ulang secara konsisten".
Mantra om Jay (guru blogger sekaligus founder KBMN) yang sangat terkenal Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Namun sehebat apapun seorang penulis, ada suatu ketika dia tiba-tiba buntu (istilah om Jay), bingung apa yang ditulis, tiba-tiba kehilangan ide menulisnya. Jadi, kalau selama ini bapak ibu susah menulis, bukan berarti tidak berbakat. tetapi, kadang kita cuma butuh trik yang tepat dan suasana yang nyaman.
Jadi, Writer’s Block itu kondisi saat kita pengen nulis...
Tapi:
1. Ide hilang
2. Bingung mulai dari mana
3. Satu kalimat dihapus lagi
4. Menatap layar kosong seperti menatap masa depan
Nah, kalau ketemu kondisi seperti itu, jangan buru-buru panik. Santai... ini normal. Banyak penulis juga mengalami hal yang sama. Bahkan sehebat Dee Lestari , seorang penulis hebat dengan banyak karya fenomenal. Penulis Supernova ini mengakui sering mengalami kebuntuan panjang. Andrea Hirata, Tere Liye semua pernah mengalami Writer's block. Juga mengalami kebuntuan dalam menulis.
Lalu, mengapa writer's block itu hadir tak diundang pada aktivitas menulis kita. ini biasanya disebabkan oleh hal-hal berikut:
1. Takut tulisan jelek
2. Kebanyakan mikir
3. Nunggu mood datang
4. Capek
5. Sibuk scrolling medsos
6. Bandingin diri sama penulis lain
Kita sering menghakimi diri sendiri. Selalu mau sempurna. Takut tulisan jelek. Kondisi ini bukannya membantu tulisan makin lancar, tetapi justru bisa stack. Buntu. Berikutnya kadang-kadang kita kebanyakan mikir: Lebih lama mikirin teori daripada eksekusi. Akibatnya tulisan macet. Penyebab lain, menunggu mood datang: Padahal menulis itu soal kedisiplinan, bukan sekadar perasaan.
Nah, ini yang sering juga menjadi alasan, capek & scrolling Medsos: Tubuh lelah, ditambah energi habis hanya karena kepo postingan orang lain. Terakhir, suka membandingkan diri dengan orang lain: Merasa tulisan orang lain lebih hebat, lebih banyak, lebih sempurna, dan seterusnya, akhirnya minder duluan.
Kadang-kadang masalahnya bukan karena kita tidak bisa menulis...Tapi kita terlalu keras ke diri sendiri.
Apakah Writer's block bisa di atasi?
Ini kunci cara melawan writer’s block:
1. Tulis saja dulu, jelek tidak apa-apa
2. Jangan edit saat baru mulai
3. Pakai timer 10 menit
4. Jauhkan HP sebentar
5. Mulai dari cerita yang paling gampang
6. Menulis sedikit tapi rutin
Sebenarnya musuh terbesar penulis itu bukan ide yang habis, tapi keinginan untuk langsung jadi sempurna. Kalau Bapak Ibu sering merasa "mentok", coba pakai resep sederhana ini untuk melawan writer's block.
1. Tulis saja dulu: Jangan dipikir bagus atau jelek, yang penting drafnya keluar dulu.
2. Dilarang Edit: Jangan hapus kalimat yang baru diketik. Selesaikan dulu sampai akhir, baru nanti diperbaiki.
3. eknik 10 Menit: Nah juga bisa jadi jurus jitu, pasang timer, fokus nulis apa saja selama 10 menit tanpa gangguan.
4. HP Mode Pesawat: Jauhkan HP sebentar saja supaya fokus tidak pecah ke notifikasi.
5. Mulai dari yang Gampang: tidak perlu berat-berat, tulis saja apa yang sedang dilihat atau dirasakan sekarang.
6. Sedikit tapi Rutin: Lebih baik 3 kalimat setiap hari daripada 3 halaman tapi cuma setahun sekali
Materi yang luar biasa, saya sendiri juga merasakan yang namanya writer's block. Pernah disakiti oleh orang yang seharusnya memotivasi saya. secara terang-terangan menyatakan tidak suka dengan tulisan bahkan membandingkannya dengan tulisan yang lain. lama saya sembuh dari kata-kata yang kurang mengenakkan itu. Setiap bertemu saya selalu ingat.
Namun malam ini, saya sudah dapatkan materinya. Bagi saya materi malam ini adalah obat bagi saya. luka saya yang sudah lama menganga malam ini mulai pulih. Jangan Menunggu "Sembuh", Tapi Dipaksa "Jalan". Writer's block seringkali menjadi alasan kita untuk menunda. Cara melawannya bukan dengan menunggu mood balik, tapi dengan membangun rutinitas baru.
Stephen King menulis setiap hari, bahkan saat tidak mood. Targetnya jelas, sekitar 2000 kata/hari. Menulis itu pekerjaan, bukan menunggu “feeling”. Gunakan Teknik "Free Writing" (Menulis Bebas). Selama 10 menit, tuliskan apa saja yang ada di kepala Ibu tanpa peduli titik koma, salah ketik, atau apakah kalimatnya nyambung atau tidak. "Kata Pak Mul".
Lega rasanya saya malam ini, Memang lukanya dalam tapi saya baca lagi tulisan Pak Mul " Jangan Menunggu "Sembuh", Tapi Dipaksa "Jalan". Kalimat ini akan saya jadikan obat utuk menyembuhkan sakit saya selama ini.
Ada juga tips ampuh sembuh dari luka bagi seorang writer's block dari pak Mul
Luka karena kritikan di depan umum memang terasa pedih, apalagi datang dari pimpinan sendiri. Namun, jangan biarkan kejadian itu mematikan api kreativitas ibu.
1. Pisahkan "Diri Ibu" dari "Tulisan Ibu"
Ingatlah bahwa saat pimpinan mengatakan tidak suka, yang dia nilai adalah tulisan tersebut pada saat itu, bukan nilai diri Ibu sebagai manusia atau pendidik. Tulisan adalah produk, sedangkan Ibu adalah proses yang terus berkembang. Jangan biarkan opini satu orang mendefinisikan seluruh potensi Ibu. Boleh ya bu
2. validasi perasaan, tapi beri batas waktu.
Wajar jika Ibu merasa sedih, malu, atau kecewa. Jangan ditekan. Berikan waktu untuk diri sendiri merasa "terluka" misalnya 1-2 hari. Namun setelah itu, buat janji pada diri sendiri "Cukup sedihnya, sekarang saatnya membuktikan dengan karya yang lebih baik."
3. kritik adalah "Bahan Bakar" yang Gratis
Jadikan kritikan pedas tersebut sebagai tenaga tambahan
Jika pimpinan bilang tidak suka, tanyakan secara spesifik. Kalau beraniπ, bagian mana yang kurang
Ada juga pesan khusus dari pak Mul " Ini pesan penutup untuk Ibu,
"Seorang penulis tidak diukur dari berapa banyak orang yang memujinya, tapi dari seberapa sering ia bangkit setelah tulisannya dihujat. Jangan berhenti menulis, karena berhenti adalah kekalahan yang sebenarnya"
Jika tidak memungkinkan bertanya, jadikan itu motivasi untuk belajar lebih giat lagi. Penulis hebat lahir dari ribuan kritikan, bukan hanya dari pujian.
Terima kasih pak Mul, malam ini sangat berkesan bagi saya. dari awal materi semua penyebab Writer's block ada pada diri saya. Mulai malam ini saya akan pelan-pelan mempraktekkan tips-tips dari bapak.
Terima kasih KBMN PGRI atas kelasnya yang luar biasa, saya bangga ada di kelas ini.

Komentar
Posting Komentar